THE LAST GREEN

T H E L A S T G R E E N

Tidak terasa banyak sekali waktu yang kita lewati bersama, selama 3 tahun ini kita banyak menghadapi bersama kini tiba saatnya kita harus berpisah.
Teman semoga kalian sukses setelah lulus nanti dan semoga apa yang kalian impikan tercapai.

Teman ingatlah kata ini THE LAST GREEN adalah nama pemersatu alumni jurusan marketing tahun ajaran 2009/2010.

THE LAST GREEN adalah julukan kita, teman jangan pernah lupa kenangan kita bersama


Teman Jangan sekali-kalipun kau berpikir didunia ini sendiri, k
arena kami THE LAST GREEN akan selalu ada untukmu disaat sedih maupun duka.


Teman jadilah dirimu sendiri

Inilah kami THE LAST GREEN


dengan moto :

"
Do not even think you're alone in this world because we are THE LAST GREEN're always there for you "

.


TOPENG CIREBON

1.Panji :

Menggambarkan kesucian manusia yang baru lahir. Gerakannya halus dan lembut. Tidak seluruh tubuh digerakan.

2. Samba atau Pamindo :

Melambangkan kelincahan manusia dimasa kanak-kanak. Sikapnya lincah dan lucu tetapi juga luwes.

3. Rumyang :

Menggambarkan kehidupan seorang remaja pada masa akil baligh.

4. Tumenggung atau Patih :

Menggambarkan manusia yang sudah menginjak dewasa dan telah menemukan jati dirinya. Sikapnya tegas, berkepribadian, bertanggung jawab dan memiliki jiwa korsa yang Paripurna.

5. Kelana atau Rahwana :

Melambangkan sifat angkara murka yang terdapat dalam manusia.


Kelima Topeng / kedok tersebut apabila dikaitkan dengan unsur Islam adalah sebagai berikut :

Topeng Panji

Akronim dari kata MAPAN ning kang SIJI, artinya tetap kepada yang satu atau Esa. Tiada Tuhan selain Allah Swt.

Topeng Samba

Berasal dari kata SAMBANG atau SABAN yang artinya setiap. Maknanya bahwa setiap waktu kita diwajibkan mengerjakan segala Perintah- NYA. Sedangkan Pamindo artinya Diduakalikan (Dipindoni), maknanya bahwa disamping mengerjakan perintah – NYA, kita juga perlu melaksanakan hal –hal yang sunnah

Topeng Rumyang

Berasal dari kata Arum / Harum dan Yang / Hyang (Tuhan).Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan Do’a dan dzikir

Topeng Temenggung

Memberikan kebaikan kapada sesama manusia, saling menghormati dan senantiasa mengembangkan silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh

Topeng Kelana

Kelana artinya Kembara atau Mencari. Bahwa dalam hidup ini kita wajib berikhtiar


POKOK – POKOK TARI TOPENG

Pokok – pokok Tari Topeng Cirebon ada 9 (sembilan) gerakan yaitu: Adeg – adeg

  1. Adeg-adeg
  2. Pasangan
  3. Capang
  4. Banting Tangan
  5. Jangkung Ilo
  6. Godeg
  7. Gendut
  8. Kenyut
  9. Nindak / Njanda

Kesembilan gerakan tersebut adalah disesuaikan dengan lubang yang terdapat pada tubuh manusia, yaitu sebagai berikut :

  • Dua lubang mata
  • Dua lubang telinga
  • Dua lubang hidung
  • Dua lubang pelepasan (depan dan belakang )
  • Satu lubang mulut


Arti dari kesembilan gerakan tersebut yaitu :

1. ADEG –ADEG (berdiri ) : Artinya kita harus berdiri dengan kokoh agar tidak tergoyahkan.

2. PASANGAN : Artinya kita senantiasa memberikan suri tauladan kepada orang lain dengan berbuat kebajikan dan kebaikan.

3. CAPANG : Artinya agar kita selalu ringan tangan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.

4. BANTING TANGAN : Artinya kita harus senantiasa bekerja keras.

5. JANGKUNGILO : Artinya mengukur keinginan kita dengan kemampuan yang ada.

6. GODEG : Artinya geleng kepala. Maknanya apabila kita melihat saudara kita sesama manusia yang sedang di landa kesusahan kita senantiasa menggelengkan kepala dan kemudian menolongnya sesuai kemampuan.

7. GENDUT : Artinya dalam hidup ini kita jangan gemuk sendiri karena masih banyak saudara – saudara kita yang kekurangan dan hidup dibawah garis kemiskinan.

8. KENYUT : Artinya Kepincut. Maknanya kita harus kepincut kepada hal – hal yang sifatnya positif dan konstruktif.

9. NINDAK / NJANGKA : Artinya bertindak atau berbuat. Maknanya kita senantiasa harus berbuat kepada jalan yang diridhoi Allah SWT.

TOPENG / KEDOK TAMBAHAN

Seperti diungkapkan diatas, bahwa jumlah kedok seluruhnya ada 9 buah dan yang dijadikan kedok pokok hanya 5 buah. Adapun 4 kedok lainnya digunakan bila mementaskan cerita / lakon.

Berikut ini adalah arti dan makna 4 kedok tambahan, yaitu sebagai berikut :

1. PENTUL : Menggambarkan seorang Pawongan / punakawan yang selalu rendah hati, tidak sombong dan selalu setia kepada tuannya.

2. NYO / SEMBLEP : Menggambarkan seorang Emban atau Parkan atau juga seorang Inang Pengasuh.

3. JINGGANANOM : Menggambarkan seorang Abdi Negara dan Abdi masyarakat Yang senantiasa menempatkan kepentingan pribadi atau golongan.

4. AKI – AKI : Menggambarkan kehidupan manusia di masa tua.






RENUNGAN

Orang percaya kepada Saya, karena Saya percaya pada diri Saya sendiri. Harapkan yang terbaik dan Anda akan mendatangkan yang terbaik menjadi kenyataan, karena Kita adalah apayang Kita lakukan berulang-ulang. Awalnya Kitalah yang membentuk suatu kebiasaan, selanjutnya kebiasaan itulah yang akhirnya membentuk karakter kita. Adapun yang dpat dan ingin Anda lakukan, lakukanlah, keberanian memiliki kecerdasan dan keajaiban didalamnya.

Yang membedakan saya dengan orng lain bukan bentuk tubuh Saya, bukan besar kecil otak Saya. Kita sama lahir dengan kreatifitas. Dalam kreatifitas ada rasa ingin tahu, kesanggupan mengambil resiko dan dorongan untuk membuat segalnya berhasil. Kita boleh terjtuh dan terperangkap dalam kondisi yang sulit, tetapi Kita dapat menemukan jalan keluar, itulah kreatifitas.

Kritis adalah peka terhadap situasi, tajam dalam mengevaluasi, dan tepat dalam mengantisipasi. Aku bersikap kritis. Efektif adalah melakukan hal-hal yang benar, efisien adalah melakukan hal-hal dengan benar. Aku bertindak secara efektif dan efisien. Sistem adalah aset utama, Sistem lebih berharga dari perangkt apapun. Sistematis adalah keseimbangan dan keterpduan antara perangkat dan program. Aku memiliki pola yang sistematis.

Dunia tidak berubah, yang berubah adalah cara pandang kita. Hal yang dapat kita ubah dan control adalah sikap. Sukses bukanlah sesuatu kebetulan belaka, karena yang kita dapatkan adalah apa yang kita cari. Cita-cita adalah janji seperti apa yang kau impikan.

Menciptakan minat sama dengan menumbuhkan motivasi yang kuat dan positif.
Bacalah buku maka Anda akan menemui “Gagasan”;
taburlah gagasan maka Anda akan menemui “Pemikiran”;
taburlah pemikiran maka Anda akan menemui “Tindakan”;
taburlah tindakan maka Anda akan menemui “Kebiasaan”;
taburlah kebiasaan maka Anda akan menemui “Karakter”;
taburlh karakter dan Anda akan menemui “Masa Depan Anda”

Tidak satupun dapat merubah diriku kecuali Aku. Aku adalah kemudi penentu kendali. Gambaran diriku membuatku sangat mandiri. Lompatan memungkinkan kita menempuh cara-cara baru, menuju kehidupan yang cerdas.

WARNA SEBAGAI MAKNA SIMBOLIK BATIK


WARNA SEBAGAI MAKNA SIMBOLIK

Makna simbolik pada batik selain dilambanngkan dengan motif hiasnya seringkali pula muncul dalam tata warna tradisi seperti :

1. Tata Warna Gula klopa (Perpaduan antara merah dan putih)

Pinggir warna merah dan tengahnya warna putih, adalah lambing kesuburan dan kemakmuran.

2. Tata Warna Klabang Ngantup (Perpaduan warna merah dan hijau tua)

Bagian pinggir / luar berwarna merah dan bagian dalamnya hijau tua, adalah lambing kekuatan yang melindungi. Kain dengan warna seperti ini biasanya digunakan untuk membungkus benda-benda pusaka yang diyakini memiliki kesaktian.

3. Tata Warna Manen Anyer (Susunan warna dari luar kedalam hijau, merah, dan putih)

Adalah lambing dari pengantin yang baru menikah.

4. Tata Warna Mayang Mekar (susunan warna bagian luar hijau dan bagian dalamnya hijau muda)

Adalah melambangkan seorang dara yang mulai mekar.

5. Tata Warna Godong Melati (susunan warna hijau dan putih)

Melambangkan kemakmuran.

6. Tata Warna Podang Nyesep Sari (susunan warna luar merah keunguan dan bagian dalam kuning)

Melambangkan kedewasaan seseorang.

7. Tata Warna Pare Anomi (susunan warna luar kuning dan bagian dalamnya hijau)

Melambangkan kemakmuran.

Nah itulah sebagian dari warna yang digunakan dikain batik Trusmi yang mempunyai makna simbolik tertentu.




BATIK MODERN TRUSMI

Batik sebagai salah satu jenis tekstil tradisional Indonesia telah dikenal bangsa Indonesia sudah sejak lama. Teknik pembuatannya yang memiliki prinsip halng rintang warna sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Lukisan cap jari tangan sudah menunjukan prinsip dasar membatik. Batik banyak diproduksi di Desa Trusmi (Cirebon), Paoman (Indramayu), Pekalongan , DIY , Solo dan pusat perbatikan lainnya. Fungsi batik sebagai karya seni rupa Nusantara daerah setempat memiliki fungsi sebagai berikut
1. Fungsi Pemenuhan akan rasa keindahan
2. Fungsi Terapan

3. Fungsi Ekonomi

4. Fungsi budaya
5. Fungsi Pendidikan

Batik Trusmi dewasa ini dibuat dengan beragam bentuk dan fungsi, bahanyapun tidak hanya kain mori, tetapi juga berbagai jenis sutera dan serat. Dewasa ini batik biasa digunakan untuk :

1. Kain sarung dibuat dengan ukuran panjang 180cm;

2. Kain panjang (Tapi) dibuat dengan ukuran panjang 250cm dan lebar 110cm;
3. Kain selendang dengan ukuran panjang 150cm dan lebar 45cm;
4. Ikat kepala tradisional dengan ukuran panjang 100cm dan lebar 100cm;

5. Baju dan Kemeja;
6. Sarimbit (Pasangan untuk suami istri);
7. Bahkan untuk hiasan dinding (lukisan).
Nah itulah informasi yang dapat saya berikan mengenai perkembngan batik tradisional Trusmi.

CIREBON TEMPO DOELOE

Ini adalah poto-poto Cirebon Tempoe Doeloe yang masih berintan (Bersih Indah Tertib Aman) sebelum banyak tercemar oleh Polusi-polusi udara transportasi yang membuat Cirebon tidak berintan lagi.



Macan Ali

Bendera (Umbul – umbul) ini tersimpan di Museum Textile Jakarta

Macan Ali” atau Macan Luhur adalah Bendera sekaligus lambang Kebesaran Keraton Cirebon, bentuknya berupa kaligrafi arab yang mengikuti bentuk piktogram stilasi dari “Macan Duduk”. Sering ditemukan di Lukisan Kaca seniman Cirebon, tulisan arabnya berbunyi: “thoyibah laa ila ha illallah”.

Dalam bendera Macan Ali terdapat:
1. Tulisan “Bismillah” dan ayat-ayat Al Quran yang melambangkan keagungan Allah.
2. Dua bintang dengan delapan sisi yang melambangkan Nabi Muhammad dan Fatimah.
3. Singa Kecil dan besar serta dua buah pedang yang menyilang yang melambangkan pedang zulfikar milik Imam Ali.
4. Singa besar yaitu Asadullah atau singa Allah yang diterjemahkan dengan Macan Ali.
5. Lima orang manusia suci sebagai sumber petunjuk dan hidayah.

macan+ali

Dengan adanya lambang kerajaan berbentuk Macan Ali menunjukkan keseriusan Cirebon sebagai pusat penyebaran agama Islam di wilayah barat pulau Jawa. Terbukti hanya dalam satu abad kepemimpinan Sunan Gunung Jati
Islam telah berkembang pesat di sebagian besar Jawa Barat menggeser kerajaan Hindu Pajajaran.

Sedangkan bendera cirebon adalah berupa Macan Ali bertuliskan kaligrafi Arab berwarnya berwarna kuning hijau berlafad (Laillaha Illallah Muhammad rasulullah) dasarnya hijau dan macannya kuning bermakna rahman rakhim/murah asih.

Hubungannya dengan Sayidina Ali, berdasarkan cerita ringkasnya karena Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) keturunan ke 17 dari Sayidina Ali, ke 18 dari Rasulullah, karena di depan namanya memakai Sayid Syarif, nasab dari Husein.


Di Keraton Pakungwati Cirebon (keraton awal) pernah dibentuk sepasukan khusus berjumlah 12 orang yang dapat berubah wujud menjadi macan. Keratonmemberikan “jubah & Bandrang (Kepala Tombak)” sebagai tanda. Kalau mau berubah dengan memakai jubah itu, pasukan ini tidak muncul sembarangan, hanya kalau Cirebon terancam bahaya saja.
Tandanya Cirebon bahaya adalah apabila “Kantil” atau Kurung Batang di Astana Gn.Jati yang berlapis emas raib…terbang… atau bergoncang. Pasukan ini berlanjut diwariskan ke ahli warisnya sampai sekarang, konon pemunculannya hanya di bulan Mulud dan di tempat keramat yang ditunjuk. Sekarang sudah berkurang jumlahnya mungkin cuman 5 saja.


Menurut cerita lain kalau bulan Mulud suka muncul di Petilasan Tapak Semar (arah barat hutan Astana Gunung Jati). Waktu ribut2 tahta di Keraton Kanoman dulu, muncul di sumur tujuh Jalatunda, menurut orang yang melihat bentuknya orang bergamis, berjalan agak merangkak lama kelamaan berkelebat jadi macan menghilang.
Tiap anggota punya nama dan pangkat, diambil dari nama daerah masing2…misalnya “Ki Gedheng…..”

Cerita yang lain, perihal pelacakan Pasukan Khusus Macan pengawal Kraton Cirebon, bernama Singha Barwang Djalalullah (kalau tidak salah ucap), yang konon kabarnya cuma tersisa 5 orang. Dari seorang kenalan banyak didapat informasi perihal pelacakan ini, termasuk ke sumber informasi yang secara moril masih berstatus sebagai seorang Adipati Kraton. Awalnya sumber yang tinggal di daerah utara Cirebon tersebut enggan mengutarakan, namun setelah mengenal lebih dalam mengenai pribadi tentang diri dan keluarga barulah beliau mau mengutarakan lebih lanjut.

Tidak bisa diperkirakan berapa jumlah tepatnya pasukan macan ini yang tersisa, bisa 3, 5 atau 7 orang. Yang pasti di bawah dari 10 orang. Berkurangnya pasukan ini dikarenakan beberapa hal, pertama adalah tidak mempunyai keturunan karena pasukan ini bersifat turun temurun. Kedua yang bersangkutan meninggal dengan membawa pakaian simbol pasukan macan yang disebut “Kantong Macan”. Pernah satu kejadian seekor macan di kepung dan diburu masyarakat kampung yang tidak mengerti, macan yang diburu kabur menghindar, hingga terperosok di sebuah sumur tua. sewaktu dilihat ke sumur ternyata bukan seekor macan, melainkan seorang manusia yang terkapar. Pada saat hendak diangkat orang tersebut sirna.

Pakaian yang bernama Kantong Macan ini sebesar ibu jari kaki, cara memakainya dengan memasukan kedua ibu jari tangan. Anehnya kantong macan tadi terus mengembang seperti elastis hingga masuk kedalam tubuh seperti pakaian. Ritual pemakaian harus hening dan sedikit penerangan. Tapi sayang tidak bisa didokumentasikan. Kekuatan spiritual dari pakaian ini tergantung si empunya, bisa 50:50 (antara manusia:siluman) atau 20:80 dan sebaliknya. Semakin tinggi tingkatannya semakin tinggi kodrati manusianya.
Sejarah adanya pasukan ini bermula ketika Susuhunan Gunung Jati sebagai pendiri kratonan Cirebon, diberikan hadiah dari kakeknya yang penguasa Pajajaran (Prabu Siliwangi). Hadiah itu berupa sepasukan khusus Pajajaran yang terdiri atas 12 orang yang dapat beralih rupa sebagai macan. Sebagaimana pasukan pengamanan, metoda penggunaan Ring 1, 2 dst juga berlaku. Masing-masing ring terdiri atas 4 orang yang meliputi arah mata angin dengan titik pusatnya Kraton Pakungwati. Semakin dekat dengan pusat, semakin tinggi ilmunya. Istilah yang digunakan adalah KW (tidak tau apa maksudnya). Ada KW 1, KW 2 dst. Kabarnya satu KW pernah diberikan sultan Cirebon kepada Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah karena memang masih ada hubungan trah.

Dari semua pembicaraan, ternyata yang paling mengesankan adalah tentang beladiri yang dipakai Pasukan Khusus itu, yaitu Gerak Gulung Pajajaran. Ketika dikonfirmasi mengenai kesamaannya dengan Gerak Gulung Budi Daya yang di Bogor, beliau mengatakan memang masih satu rumpun.




BATIK PESISIR CIREBON

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa daerah Cirebon adalh daerah yang masyarakatnya mempunyai ketrampilan membatik sejak jaman nenek monyang dulu. Daerah yang berkembang di kerajinan batik adalah daerah Trusmi yang terletak 5 km dari arah Kota Cirebon, Selain itu Cirebon merupakan Daerah perbatasan antara Jawa Barat & Jawa Tengah

Cirebon mempunyai 2 keraton yaitu keraton Kasepuhan dan KanomanCirebon merupakan daerah pelabuhan yg menjadi pusat perdagangan
sehingga Cirebon mengalami Akulturasi maupun Interkulturasi budaya antar negara negara seperti Cina,Arab dan India.

Cirebon juga menjadi tempat penyebaran Agama Islam Pada akhirnya membuahkan corak – corak kultural yg beragam pada tata nilai budaya Cirebon.

Banyak sekali motif batik yang berkembang di Cirebon, sehingga motif-motif tersebut menjadi ciri khas sebagai motif batik Cirebon seperti motif yang menjadi unggulan Cirebon yaitu diantaranya adalah :

1. Motif : "MEGA MENDUNG" yang mengandung makna
persahabatan antara
Cirebon dan China.
2. Motif : "Ayam Alas Gunung Jati" (Saung Galing) yang mempunyai makna ambang penyebaran agama Islam dari bukit gunung jati atau juga mengandung arti ayam yang menjadi simbol penanda waktu sholat.
3. Motif : " Paksi Naga Liman " yang mengandung makna
yang menggambarkan imajinasi binatang khayal yang
melambangkan perpaduan budaya Islam, Cina dan India
Peksi = Burung / Buraq melambangkan dunia Islam
Naga bertanduk = Liong melambangkan dunia China
Belalai seperti gajah = Ganesha melambangkan dunia India (Hindu)
4. Motif : " Puser Bumi " yang melambangkan bahwa Cirebon merupakan tempat penyebaran agama islam tepatnya didaerah Gunung Jati.

Sedangkan motif yang biasa dipakai oleh masyarakat Keraton Cirebon Motifnya dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Ragam hias yang halus dan kecil kecil yang biasa dipakai oleh para Ningrat / Keturunan Raja seperti :
- "Motif Semen Rama" melambangkan kearifan dan juga kebijaksanaan.
- "Motif Sawat Pengantin" melambangkan sepasng pengantin baru.
- "Liris Seno"
- "Patran Kangkung" melambangkan persatuan dan kesatuan antar umat islam
- "Lung lungan / Ganggangan" melambangkan keanekaragaman dunia ini.
2. Ragam hias yang kuat dan besar biasa dipakai oleh para punggawa atau abdi dalem seperti :
- "Motif Simbar Menjangan" yaitu Berupa tanaman merambat yg alot dan melambangkan kekuatan serta keuletan
- "Motif Simbar Kendo" juga melambangkan kekuatan serta keuletan
Adapun motif-motif lainnya diantaranya sebagai berikut :